SANGATTA – Sebuah pelatihan public speaking yang digelar di Hotel Royal Victoria Sangatta memberikan semangat baru bagi perempuan-perempuan di Kutai Timur untuk lebih percaya diri tampil di ruang publik. Kegiatan ini diprakarsai oleh Yohana Fransiska, pendiri Kelas Bermain dan Belajar Bersama Kak Yo, sekaligus pelatih public speaking, bekerja sama dengan manajemen hotel setempat.
Yohana mengungkapkan bahwa pelatihan ini lahir dari keresahan terhadap minimnya ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif. Menurutnya, perempuan kerap distereotipkan sebagai komunikator emosional, padahal mereka memiliki potensi besar untuk menyampaikan pesan dengan logis dan terstruktur, Jumat (1/8/2025).
“Perempuan itu perlu bergerak lebih maju, dimulai dari kata-kata. Dengan belajar public speaking, mereka bisa menjadi pembicara, MC, bahkan mampu menjual produk dengan komunikasi yang efektif,” jelas Yohana.
Pelatihan ini diikuti oleh 25 peserta yang mayoritas berasal dari Kutai Timur, termasuk ibu rumah tangga, profesional, dan pelaku organisasi. Salah satu narasumber dalam kegiatan ini adalah Laurentia, seorang MC sekaligus motivator dari Sangatta.
Yohana berharap pelatihan serupa dapat mendapat dukungan dari pemerintah daerah, khususnya dinas yang menangani pemberdayaan perempuan. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kemampuan komunikasi sebagai upaya mencegah kasus-kasus seperti perdagangan manusia atau bunuh diri, yang sering kali berakar dari ketidakmampuan menyampaikan perasaan atau masalah.
“Satu kata bisa menghancurkan ribuan hati, tapi juga bisa membangkitkan ribuan semangat. Karena itu, perempuan harus menguasai komunikasi,” tegasnya.
Peserta pelatihan, dr. Yulia, mengaku mengikuti kegiatan ini untuk meningkatkan keterampilan dalam menyampaikan pesan secara meyakinkan. “Saya ingin belajar bagaimana menyampaikan ide dengan lebih logis dan terstruktur, bukan hanya dengan perasaan,” ujarnya.
Senada dengan itu, peserta lainnya, Amitia, menilai pelatihan ini sangat bermanfaat karena aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. “Public speaking bukan sekadar bicara, tapi soal menyusun kata, intonasi, dan gestur tubuh agar pesan tersampaikan dengan baik,” ucapnya. Ia mengaku tantangan terbesar adalah mengatasi rasa gugup saat berbicara di depan umum.
Sementara itu, salah satu peserta dari Kecamatan Bengalon yang menempuh perjalanan jauh demi mengikuti pelatihan ini menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu dalam pekerjaannya yang menuntut interaksi dengan banyak orang. “Saya jadi tahu bagaimana menyusun kalimat yang tepat dan mengelola emosi saat berbicara,” ungkapnya.(F)



Tinggalkan Balasan