Kutim Genjot Hilirisasi Nanas Batu Ampar, Siap Tembus Pasar Nasional dan Internasional
KUTAI TIMUR – Hamparan kebun nanas di Kecamatan Batu Ampar bukan sekadar simbol berkelimpahan alam. Di balik tumpukan buah berduri itu, tersimpan potensi ekonomi baru yang kini tengah digarap serius oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur (Kutim).
Tak hanya menjual buah segar, pemerintah daerah mendorong hilirisasi nanas sebagai strategi meningkatkan nilai tambah dan memperluas akses ke pasar nasional hingga internasional.
“Nanas Batu Ampar punya kualitas sangat baik, tapi selama ini hanya dijual mentah. Kita ingin ubah cara mainnya. Harus ada nilai lebih,” tegas Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningtyas, Selasa(25/7/2025).
Hilirisasi dimaksud mencakup pengolahan pascapanen menjadi produk bernilai tinggi seperti jus, selai, puree, dan konsentrat. Sejumlah buyer dari industri makanan dan minuman di Jakarta bahkan mulai menunjukkan ketertarikan.
“Sudah ada komunikasi dengan beberapa pelaku industri. Responsnya cukup positif, khususnya untuk konsentrat dan puree,” ungkap Dyah.
Tak berhenti di situ, DTPHP juga melirik potensi zero waste dari komoditas ini. Serat daun nanas yang kerap dibuang ternyata kaya selulosa dan dapat diolah menjadi bahan tekstil alami atau kerajinan tangan ramah lingkungan.
“Ini bisa jadi keunggulan baru Kutai Timur. Kita tak hanya menjual rasa, tapi juga cerita dan inovasi,” tambahnya.
Untuk merealisasikan itu, DTPHP menggelar pelatihan pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran bagi kelompok tani dan pelaku UMKM di Batu Ampar. Pemerintah juga menggandeng praktisi industri untuk transfer pengetahuan, serta mengusulkan bantuan alat pengolahan ke Kementerian Pertanian.
Targetnya, dalam dua tahun ke depan, minimal lima produk olahan nanas lokal sudah hadir di pasar modern maupun platform e-commerce.
Langkah ini disambut baik oleh para petani yang selama ini hanya menjual nanas segar dengan harga fluktuatif.
“Kalau bisa bikin olahan sendiri, kami enggak perlu buru-buru jual. Harga juga bisa lebih tinggi,” ujar seorang petani peserta pelatihan.
Data DTPHP mencatat, produksi nanas Kutim mencapai lebih dari 500 ton per tahun. Namun, baru sekitar 20 persen yang diolah menjadi produk turunan, sisanya dijual segar atau digunakan sebagai pakan ternak.
Dyah optimistis, dengan ekosistem yang mendukung, Kutim bisa menjadi sentra pengembangan nanas terpadu di Kalimantan Timur.
“Kami butuh dukungan semua pihak. Kalau ini berhasil, nanas bisa jadi ikon baru pertanian modern Kutai Timur,” pungkasnya(*)



Tinggalkan Balasan